Dalam surat Al-Ahzab (33) dinyatakan bahwa:
Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan kedatangan hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.
Tulisan kali ini menyadarkanku akan kehidupan yang saya jalani hingga saat ini. Betapa kurangnya saya sebagai manusia. Saya benar-benar setuju dengan para ahli yang berkata bahwa semakin banyak kita belajar, kita akan semakin sadar akan kebodohan kita. Saya g bilang kalaw saya banyak belajar lho ya. ehehehehe.
Kembali ke topik kita kali ini, yaitu tentang warisan Rasulullah SAW yang insya Allah akan mengantarkan kita untuk mencapai sukses DUNIA & AKHIRAT. setidaknya beliau meninggalkan delapan warisan yang mutlak harus kita miliki. Diantaranya:
- Niat
- Doa
- Ikhtiar
- Syukur
- Sabar
- Sedekah
- Silaturahmi
- Ikhlas
adapun masing-masing uraian warisan tersebut:
- Niat
Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. (HR Bukhari dan Muslim)
Sebelum diuraikan lebih lanjut, ada gunanya kita renungkan sejenak pertanyaan-pertanyaan simpel berikut ini:
Sebenarnya apa yang anda inginkan?Mengapa Anda mengnginkan hal tersebut? Apakah jika tercapai akan bermanfaat bagi Anda? jika semua tercapai akankah memberikan kebahagiaan?
Mengapa niat harus selallu ada dan jelas? Niat merupakan hal awal dan modal terpenting dalam setiap kegiatan. Niatlah yang akan menjadikan perbuatan itu bermakna atau tidak, bernilai ibadah atau tidak. Dan dengan niat inlah kita bisa bertindak dengan lebih konsisten dan terarah.
Ada sebuah kisah dari seorang pujangga sufi yang bernama Sa'di dalam salah satu karyanya berjudul
Gulistan yang dapat memberikan gambaran mengenai pentingnya Niat:
(Ada seorang Raja yang ingin membunuh tawanannya. Mengetahui akan hal itu, konon si tawanan mengucapkan sumpah serapah dalam bahasa daerahnya yang tentu tudak dimengerti oleh dang raja.
"Apa katanya?" tanya sang raja kepada menterinya. Salah seorang menteri yang berhati emas menjawab,"Baginda, dia mengatakan bahwa Tuhan telah berfirman,'orang yang menahan amarahnya dan memaafkan manusia maka surgalah tempatnya.'
Rupanya hati sang raja tersentuh dan membatalkan niatnya untuk membunuh sang tawanan. Menteri yang lain berkata
,'Baginda, sebenarnya
yang dikatakan tawanan itu
bukanlah demikian. sebaliknya ia telah mencaci maki terhadap baginda.'
Mendengar perkataan ini raja menjadi gusar dan berkata kepadanya,'kebohongan yang dia ucapkan lebih bisa diterima ketimbang kebenaran yang kamu ucapkan. Hal itu karena dia mengucapkannya dengaan maksud baik, sedangkan engkau mengucapkannya dengan niat buruk".)
Kisah ini memberikan penjelasan kepada kita bahwa walaupun perbuatan baik, tetapi jika dilakukan dengan niat yang buruk, hasilnya akan menjadi jelek. Begitu juga sebaliknya, perbuatan yang buruk, tetapi jika dilakukan dengan niat yang baik dapat menghasilkan sesuatu yang baik. terlebih jika kita melakukan sesuatu yang baik dengan niat yang baik. Subhanallah.
Muhammad SAW telah menyampaikan dua kalimat yang sangat dalam maknanya, yaitu sesungguhnya amal bergantung pada niat seseorang. Dalam kata pertama, beliau menjelaskan bahwa amal tidak ada artinya tanpa niat. Adapun dalam kata kedua, beliau menjelaskan bahwa orang yang melakukan suatu amal, tidak akan memperoleh apapun kecuali menurut niatnya.
Orang yang tidak niat, seperti seseorang yang tidak makan seharian karena memang tidak ada makanan atau karena ia akan dioperasi, dalam dua kondisi ini, ia tidak disebut orang yang melakukan ibadah puasa.
Dengan niat kita bisa membedakan mana yang hanya sebatas angan-angan dan mana yang menjadi target atau keinginan. jadi, berniatlah sebaik mungkin. tatkala kita hanya mengangankan sesuatu, misalnya saat hari panas, dan kita ingat minum es buah, tetapi tidak diikuti dengan itndakan maka itulah angan-angan. Berbeda jika pada saat terpikir kemudian diikuti dengan memikirkan cara dan usaha mendapatkan es tersebut, kita telah benar-benar 'berniat'.
Besarnya pengaru niat dapat menjadikan hal-hal yang mubah dan kebiasaan, dapat bernilai ibadah. Dapat kita ambil contoh yaitu, makan minum dan berpakaian. Jika dikerjakan dengan niat untuk ketaatan kepada Allah dan melaksankann kewajibannya-Nya, pekerjaan itu akan menjadi ibadah yang diganjar. Orang yang mencari nafkah untuk menjaga dirinya agar tidak meminta-minta kepada orang lain, membiayai dirinya dan keluarganya, akan diganjar atas niatnya. Seperti hadis Sa'ad bin Abi Waqqash bahwa Nabi SAW bersabda
,"Sesungguhnya jika engkau manafkahkan hartamu yang dengannya engkau mengharapkan wajah Alla, engkau akan diberi pahala lantaran nafkahmu, bahkan apa yang engkau suapkan ke mulut istrimu." (HR Bukhari)